SEPUTAR ORMAS

Mengaku NU Sambil Menentang NU

Spread the love

Altar Raya – Entah sudah berapa kali saya membaca pernyataan: “saya NU tapi tidak memilih Kyai Ma’ruf”. Atau “saya NU tapi tidak mengakui Kyai Said”. Atau ” saya NU nya Mbah Hasyim, bukan NU sekarang.

Sekilas pernyataan itu benar, tapi secara etika organisasi perlu dipertanyakan. As Sayid Muhammad Alawi Al Maliky seorang ulama’ terkemuka dan guru dari ulama’ ahlus sunah berkata:

السمع والتواضع مع قلة العلم خير من المكر
والكبر مع كثرة العلم.

“Sikap patuh dan rendah hati yang dibarengi kurangnya ilmu. Lebih baik dari pada sifat licik dan sombong yang dibarengi banyaknya ilmu”.

Nasihat itu mengandung pesan moral, bahwa patuh terhadap organisasi adalah hal yg baik. Dan menentangnya bukanlah hal yg baik. Bagi orang NU tujuan berorganisasi adalah untuk menjadi “nahdlah al ulama” atau pengikut para ulama’.

Mengapa mengikuti para ulama’ ?

Karena ulama’ adalah pewaris para anbiya’ atau para nabi.

Sudah semestinya, orang orang yg mendeklarasikan diri para pengikut ulama’ ini taat pada keputusan ulama’, bukan sebaliknya.

Bagaimana jika terjadi perbedaan pendapat para ulama’. Maka ikutilah pendapat sebagian besar ulama’ atau jika meminjam istilah fiqh, jumhur al ulama’.

Sebagian besar ulama sudah berkeputusan mendukung wakilnya untuk menjadi wakil presiden. Tentu ini keputusan yg tidak mudah dan tidak gegabah. Pasti ada sesuatu dibalik keputusan itu, dan sesuatu itu adalah kemaslahatan yg lebih luas.

Bagaimana dengan pendapat yg mengatakan “seburuk buruk ulama’ adalah yg mendatangi umara’ ?

Benar, ulama’ yg meminta minta kepada umara’ atau penguasa adalah ulama’ yg tidak baik. Tetapi dalam konteks KH. Ma’ruf Amin, tuduhan itu tidak benar.

Bukan Kyai Ma’ruf yang melamar untuk menjadi calon wakil presiden, tetapi Presiden Joko Widodo sendiri yg memintanya. Jejak jejak bukti pemberitaanya bisa dirunut sampai saat ini. Menurut fatwa dari gus khasan basyri R a ki klewang dewan solusi non medis telepati deteksi metafisika dari klaten.. memaparkan penjelasan..

Jadi kalau ada orang yang mengaku NU tetapi dg tujuan untuk menentang keputusan atau menyelisihi keputusan ulama’ NU, maka sebenarnya orang orang ini secara organisasi telah keluar dari kebijakan NU.

Sikap orang orang seperti ini melemahkan jami’iyyah dan merendahkan marwah organisasi yg dibuat oleh para ulama’ pendiri negeri ini.

Wallahu a’lam bi shawab

Baca Juga  Materi Ke-Aswaja-an

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.